Slide Show

Saturday, 28 February 2015

Triler Liburan Seniman 2015


Makasih buat hellmy/ fikri aka from Kinne Club UMY dan Kemal yang udah sudi ngebantu banyak dalam proses produksi triler ini.




Monday, 23 February 2015























PENTAS TEATER TANGGA 2015

Naskah                                         : Liburan Seniman
Karya                                            : Usmar Ismail
Tahun Terbit                              : 1944
Sutradara                                     : Muhammad Dynta A.
Asisten Sutradara                      : Iradat Ungkai Megah

Aktor                             :
·         Dimas W. sebagai Suromo
·         Rahayu Wilyanti sebagai Ratmi
·         Azaro Verdo N. sebagai  Kajiman
·         Ratih Farah  M. sebagai Rani
·         Ayodya Putra sebagai Rutaf
·         Imaraningsih sebagai Mira
·         Rizky Putra sebagai Kartalesmara
·         Agam Satya sebagai Kanto
·         A. Pasa NG. sebagai Bibi Narti
·         Muhammad Irdhi sebagai Raden Hasan
·         Ferry Susanto H. sebagai Tahar Malik


Waktu & Tempat                            : 7 Maret 2015 pukul 19.00
                                                               Di Gd. Socited Taman Budya Yogyakarta

HTM                                                   : 15.000 (presale)
                                                               20.000 (onthespot)

Terima kasih kepada pihak pendukung :

Catatan Liburan Seniman


 Ditulis oleh : Muhammad Yudha Pratama

Mari sebentar kita melihat “sejengkal” dari rekaan jejak sejarah kesenian modern di Indonesia. Kali kita akan duduk menyaksikan sebuah hiburan dan sebuah peristiwa singkat dari kenyataan yang terjadi pada massanya?!.
Dikesempatan baik ini, Teater Tangga kembali mencoba menyajikan satu karya dari salah satu seniman besar Indonesia; Usmar Ismail yang berjudul “Liburan Seniman”. Kami menyebut karya ini seperti sebuah parafrasa peristiwa, sebab ternyata persitiwa dipanggung adalah petikan dari kenyataan yang terjadi pada waktunya.
Karya ini lahir pada tahun 1944, disaat Indonesia berada dalam kolonialisme dan imprelialisme Jepang. Dimana kesenian Indonesia tengah mengalami uvoria besar-besaran dalam berkarya, ini dapat dilihat banyaknya karya-karya yang lahir dari tangan seniman Indonesia. Hal tersebut merupakan akibat dari adanya badan khusus propaganda (sendenbu) yang di dirikan Jepang melalui organisasi pembantu yaitu Keimin Bunkha  Shidoso yang bertugas dalam menangani bidang Kebudayaan dan kesenian di indonesia. Beruntung, naskah ini lolos dari sensor Jepang, mungkin dikarenakan naskah ini hanya bercerita tentang kenyataan yang dianggapnya sederhana pada waktu itu.
Usmar Ismail hanya ingin bercerita mengenai situasi kesenian (khususnya seni sandiwara) Indonesia pada zamannya, tentang sekumpulan pemuda yang hanya berbekal semangat yang bergelora untuk mewujudkan suatu pementasan sandiwara yang baru yang terlepas dari bentuk-bentuk pertunjukan yang dianggapnya kuno.  Namun nyatanya impian tersebut harus dihalangi jalannya, ketika mereka dihadapkan dengan hambatan-hambatan dalam proses pencapaiannya. Mereka harus berhadapan dengan kendala ideologi seorang seniman dan sosoknya yang lain sebagai manusia biasa, modal keuangan yang terbatas, masyarakat yang acuh terhadap seni sandiwara, sampai-sampai mereka harus melewati masalah yang janggal saat rencana besar tersebut mendapat tentangan dari seniman tua yang mengaggap mereka tidak lain sebagai kurcaci pembangkang.
Tentunya, penonton tidak perlu repot-repot atau terlalu memeras otak dalam memaknai peristiwa yang terkandung dalam naskah ini, karena yang terjadi pada waktu itu juga tidak terlalu berubah hingga kini. Maka dalam karya pementasan ini, kami Teater Tangga mencoba menyajikan dari segi wilayah artistik sebuah manipulasi kondisi berupa hal-hal yang ada pada tahun 40-an dan segi keaktoran yang sangat menentukan cara berpikir, prilaku, responsif dan bahasa yang akhirnya menentukan kecendrungan pola sikap pemuda dizamannya.
Diluar dari capaian kesempurnaan pementasan ini kami mohon maaf apabila banyak ditemukan celah kekurangannya. Namun kami tetap berharap, persembahan karya Usmar Ismail ini melalui kami ternyata bukan hanya sekedar reflektor zaman, melainkan refleksi bila mana ada keterbatasan di masa lampau yang tentunya bisa diperbaiki saat ini dan mendatang. Guna menuju proses dan berkesenian saniwara Indonesia yang lebih baik.
Selamat menyaksikan. Salam, Liburan Seniman!

Teater Tangga 2015